Langsung ke konten utama

Kisah Seorang Wali Yang Namanya Tertera di Lauhuf Mahfudz Sebagai Penghuni Neraka

Tolong di baca sampai habis agar tidak terjadi kesalah pahaman
____________________________________________________________
Ada seorang sufi dari kalangan tokoh tasawuf yang bernama SYEIKH ABDUL AZIZ AD-DABAGH. Beliau di kalangan tokoh tasawuf termasuk ulama kelas atas, wali min auliyaillah, ahli ibadah.

Suatu ketika malaikat melihat namanya di lembaran kitab lahil Mahfudz ada dalam deretan penghuni neraka. Melihat hal tersebut malaikat merasa kasihan dan mendatangi Abdul Aziz Ad-Dabagh.

Malaikat berkata:" wahai Abdul Aziz Ad-Dabagh. Untuk apa engkau ibadah sampai segitunya, sedangkan aku lihat namamu di lembaran lauhil Mahfudz engkau adalah penghuni neraka. Mau ibadah bagaimanapun, engkau tetap akan masuk neraka.

Kemudia Abdul Aziz Menjawab: "Wahai Malaikat. Surga dan neraka bukan urusanku. Aku di perintahkan oleh Allah hanya untuk beribadah kepada-nya."
"Sebagaimana Allah berfirman: tidaklah aku ciptakan jin dan manusia beribadah kepadaku".
Mau aku masuk surga atau neraka itu haknya Allah." 

Kemudian Malaikat kembali ke Lauhil Mahfudz dan melihat nama Abdul Aziz sudah diubah oleha Allah menjadi penghuni surga. Sebab Allah berhak menetapkan kitabullah.
Lantas malaikat kembali menemui Abdul Aziz dan berkata: "Wahai Abdul Aziz, ada kabar gembira. Baru saja aku melihat namamu di ubah oleh Allah menjadi penghuni surga."

Abdul Aziz Menjawab: Alhamdulillah, tapi sekali lagi, malaikat. Surga dan neraka bukan urusanku. Aku beribadah hanya untuk menggapai ridho-Nya Allah. Kalau Allah ridho aku di neraka, ya itulah tujuanku."

Malaikat pun takjub dengan keikhlasan Abdul Aziz dalam beribadah dan berkata: wahai Abdul Aziz ikhlasmu inilah yang membuat Allah ridho menjadi penghuni surga."

Lantas Abdul Aziz bertanya kepada malaika::" Bila ikhlasku tadi yang membuat Allah ridho kepadaku, lalu kira-kira dosa apa yang membuat Allah SWT murka kepadaku, sehingga aku menjadi penghuni neraka?."

Kemudian Malaikat Berkata: engkau ingat ketika engkau masih kecil, ketika umurmu sekitar 15 tahunan. Engkau ingat, ketika engkau tidur di kamar tidurmu kemudia engkau mendengan suara langkah kaki ibumu menuju tempat tidurmu untuk menyuruhmu membeli sesuatu di pasar?"
"Karena engkau mendengar suara langkah kaki ibumu menuju kamarmu, lalu engkau pura-pura tidur padahal engkau sudah bangun. Kau pura-pura tidur agar engkau tidak disuruh pergi pasar."

Ketika ibumu membuka pintu kamarmu dan melihatmu masih tidur, ibumu merasa kasihan dan tidak jadi menyuruhmu ke pasar. Sebab engkau bohongi ibumu, maka Allah murka dan menjadikan namamu sebagai penghuni neraka." Mendengar cerita dari malaikat, Abdul Aziz pun beristighfar memohon ampun kepada Allah.

Semenjak kejadian tersebut, SYEIKH ABDUL AZIZ AD-DABAGH di sisa umurnya tidak pernah berceramah kecuali tentang berbakti kepada orang tua. Setiap orang yang datang kepada beliau selalu diwasiatkan untuk berbakti kepada orang tuanya.

Mari kita renungkan sejenak padahal kesalahan beliau hanya pura-pura tidur. Lalu bagaimana dengan orang yang sampai membenatak ibunya? Bagaimana yang sampai memasamkan wajahnya kepada ibunya? Mari kita belajar bersama-sama untuk lebih berbagkti kepada orang tua kita, lebih yang masih hidup ataupun yang telah wafat.

Jangan meremehkan dosa kecil, karena dikhawatirkan justru di situ ada murka-nya Allah. Jika tangan kita masih sulit untuk berbuat baik pada orang tua, maka ringankanlah Lisa kita untuk senantiasa mendoakan kedua orang tua kita.

Postingan populer dari blog ini

Kisah Seorang Istri Yang Menutupi Kekurangan Suaminya

Ada sebuah kisah, ketika seorang suami menangis kepada sahabatnya. Sahabatnya itupun bertanya,"kenapa kau menagis tersedu-sedu seperti ini?" Sang suami menjawab, "istriku sedang sakit demam" Sahabatnya bertanya lagi,"sebegitu cintanyakah kau? Sehingga istri sakit demam saja sampai menangis sangat dalam seperti ini? Sang suami menjawab,"Kau tahu siapa istriku?". Lalu sang suami menceritakan pada sahabatnya, Aku ini miskin, tidak punya pekerjaan tetap dan setiap hari keluargaku hanya makan dengan kacang, itupun jika aku tak pulang karena belum mendapat apa" untuk di makan paling istriku hanya minum air atau berpuasa. Suatu hari keluarga mertuaku mengundang kami untuk berkunjung ke rumahnya, kebetulan istriku berasal dari keluarga kaya. Saat aku duduk berkumpul bersama mertuaku dan keluarga yang lain di meja makan dengan hidangan yang mewah, aku tidak menemukan istriku. Lalu aku bertanya kepada ibu mertuaku,"dimanakah dua ibu?". Ibu mertua

Perjalanan Menuju Ahlakul Karimah dan Nafsu Mutmainah Part 1

Perjalanan Hayat Disini saya akan uraikan dengan singkat semoga bermanfaat bagi keluarga yang mau mengikuti dan yakin pada perjalanan “ABAH RUSLI”.  Pertama-tama kita ambil pelajaran yaitu di ciptakan jin dan manusia, buruk dan baik, kita diberi akal untuk memilih. Kata kunci hanya ditujukan kepada “PERBUATAN MANUSIA”.  Hal ini berkaitan dengan hukum Tuhan (sunatullah) yang pasti yaitu hukum sebab akibat yang dilakukan manusia. tersurat dan tersirat dalam Al-Quran dalam surat Al-Zalzalah ayat 7-8. Sebenarnya sejak kita lahir sudah ada benih nafsu yang paling sederhana yang namanya “NALURI” untuk memenuhi kebutuhan “JASMANIAH”. Setelah aqil balik dimana akal mulai tumbuh maka nafsu berkembang menjadi bermacam-macam dan berhubungan dengan kebutuhan “BATINIAH”.  Disini dalam diri manusia terbentuk menjadi dua kutub yang selalu berpasangan yaitu baik dan buruk, salah dan benar, sengsara dan bahagia, bodoh dan pintar, tak paham dan mengerti, dan seterusnya. Akibat dari dua kutub inilah timb